[ISU] Kisah Aksan, anak dalam video "Ikan Tongkol" yang disebut disleksia dan yatim piatu. Sumber Isu : Broadcast WA
[ISI TULISAN]
*Mentertawakan Kemalangan Saudara Sendiri*
Bapak Ibu pernah melihat video ini? video berdurasi singkat ikhwal anak SD yang menjawab pertanyaan Pak Presiden tentang nama-nama ikan. Viral banget yaa...
Video ini sukses membuat jutaan pemirsa di Indonesia ngakak guling-guling saat mendengar jawaban sang bocah yang lugas dan teramat polos. Jawaban itu tak lain adalah nama ikan yang seharusnya adalah ikan *Tongkol* , namun dilafalkan terbalik menjadi nama alat vital laki-laki dalam bahasa Sunda/Jawa.
Dan sang pengunggah video inipun menuai jutaan klik yang artinya adalah mengalirnya sejumlah uang ke dalam pundi-pundinya.
Saya termasuk yang sempat tersenyum simpul saat mendapat share video ini, asli sama sekali tidak mengetahui latar balakang pembuatan video ini, dan siapa bocah polos berseragam putih merah yang sanggup memancing tawa dan senyum bahkan bapak Presiden RI.
Namun betapa menyesalnya saya, setelah saya mengetahui siapa adik cilik nan lucu ini. Ternyata ia adalah Akhsan, seorang anak penyandang *difabel Dyslexia* (penderita kesulitan berbicara/membaca/mengucapkan kata-kata yg mirip) yang baru satu minggu mengikuti terapi, dan Akhsan adalah seorang *anak yatim piatu* .
Menurut Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang, Akhsan setiap hari menulis surat pada Ibunya.
Surat yang tak kunjung berbalas tentu saja. Akhsan kecil terus saja melakukan itu, karena ia tak mengerti bahwa Mamanya telah tiada.
Jadi teman-teman, Bapak Ibu, mari berhenti menshare video ini, karena ada bocah kecil malang yang nantinya akan terus ditertawakan. Akhsan itu saudara kita, anak Indonesia yang harus dibantu dan disayangi, alih-alih dijadikan bahan olok-olok karena kekurangannya.
- Bu Anni Albayan -
Semoga bermanfaat ❤❤
[KLARIFIKASI]
Ternyata kisah yang beredar dalam broadcast WA adalah #fiksi, yang memang terinspirasi dari anak dalam video "Ikan Tongkol". Ini diakui si pemilik kisah fiksi Aksan, #CeciliaGandes, di akhir tulisannya di Instagram.
Berikut link tulisan lengkapnya di IG:
https://www.instagram.com/p/BPxlr1WgGLw/
Sayangnya screenshot IG Cecilia yang juga viral di medsos, terpotong. Sehingga disclaimer pada akhir tulisan tidak terbaca.
Penjelasannya di FB:
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10210624864434408&id=1131351818&set=p.10210624864434408
Bantahan masalah yatim piatu:
AR, bocah sekolah dasar (SD) itu, mungkin tak sengaja salah menyebut nama ikan tongkol saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Presiden RI Joko Widodo.
Peristiwa itu terjadi dalam kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) Tahun 2017 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2017).
Momen AR salah sebut nama ikan tongkol itu terekam kamera, dan videonya menjadi viral di media sosial.
Meski menuai komentar negatif dan jadi bahan bercandaan, kebanyakan netizen membela bocah ini.
Lantas, siapakah AR? Dia merupakan murid kelas III SD sebuah sekolah pesantren di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.
Baru setahun belakangan ini AR dititipkan di pesantren tersebut. Sebelumnya, dia adalah murid di SD 12 Pagi Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat.
AR sebelumnya tinggal di rumah eyangnya, Elly (69), bersama pamannya yang bernama Dimas (28), di kawasan Sumur Batu.
Sejak lahir, AR sengaja dititipkan ayah dan ibunya di rumah Elly karena kondisi ekonomi kedua orangtuanya yang saat itu sedang kesulitan. Ayah AR juga sedang dirundung masalah.
"Karena kakak ada masalah, sejak lahir dia (AR) dititipkan di sini," kata Dimas, kepada Kompas.com, saat ditemui di kediamannya di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (30/1/2017).
(Baca juga: Termasuk "Bully", KPAI Minta Video Siswa Salah Bicara Ikan Tongkol Jangan Disebarkan)
Usia AR sekarang sudah menginjak sepuluh tahun. Selama sembilan tahun, ia dibesarkan Elly dan Dimas.
Karena konflik yang terjadi pada orangtua tadi, AR tidak bisa hidup bersama kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya juga hidup terpisah.
Sang ayah membawa si sulung, sedangkan ibunya yang berasal dari Jawa Timur itu membawa adik AR yang bungsu. Hidup AR hampir sepenuhnya ditanggung eyangnya dan Dimas.
Pada usia enam tahun, kata Dimas, AR pernah dikunjungi ayah dan ibunya. "Umur enam tahun, bapak dan ibunya pernah nengokin," ujar Dimas.
AR merupakan cucu kesayangan eyangnya. Ia dipindahkan dari sekolahnya di SD 12 Pagi Sumur Batu untuk mendapat pendidikan lebih baik di pesantren.
"Pergaulan di sini kurang baik. Takutnya enggak terarahkan, makanya dipindahkan ke pesantren," ujar Dimas.
AR yang menyukai sepak bola itu terbilang memiliki prestasi yang biasa saja. Namun, kata Dimas, AR bercita-cita menjadi dokter seperti almarhum kakeknya yang pernah bekerja sebagai dokter di RSCM dan BKN.
Sementara itu, nenek AR merupakan pensiunan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan).
Saat masih tinggal bersama neneknya, AR sudah belajar membantu nenek mengantar dagangan.
"Anaknya biasa aja, namanya anak kecil kadang susah dibilangin, kadang juga nurut, tetapi anaknya rajin, suka membantu eyangnya bawain dagangan," ujar Dimas.
Ia juga menyebut AR anak yang sehat. Ia yakin AR tak sengaja melakukan kesalahan saat menyebut nama ikan.
Menurut dia, AR memang tak lancar dalam berbicara. Ia juga kurang sempurna dalam mengucapkan huruf "r".
Kendati demikian, selama hidup bersama, Dimas tak pernah mendengar AR berkata-kata kasar.
Ingin sepeda
Ia juga menceritakan bahwa AR sejak lama menginginkan sepeda. Ia ingin punya sepeda sejak duduk di kelas I SD. "Memang dia ingin sepeda baru, sempat minta sama eyangnya," kata Dimas.
Sepeda milik AR terakhir rusak saat ia masih kelas I SD. Ia juga pernah kehilangan sepedanya. "Yang satu lagi sepedanya hilang karena kemalingan," ujar Dimas.
Dimas mengatakan, AR senang dengan sepeda baru dari Presiden Joko Widodo. Kabarnya, sepeda itu dibawa ke pesantren tempat AR bersekolah dan dititipkan.
Link: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/30/14415091/ini.sosok.ar.anak.sd.yang.salah.sebut.ikan.tongkol.di.hadapan.jokowi
Sedangkan untuk masalah disleksianya, tidak ada keterangan resmi yg menyatakan hal tersebut. Dari link Kompas bisa dlihat bahwa si anak bersekolah di pesantren, bukan sekolah untuk difabel.
[KESIMPULAN] Disinformasi
Adapun tokoh Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang dalam tulisan Bu Anni Albayan, bukanlah tokoh fiksi. Tulisan menjadi semakin tidak jelas karena Bu Anni mencantumkan nama Ibu Noviana ke dalam cerita fiksi. Cecilia Gandes sudah meminta website yang memuat tulisan Bu Anni supaya tulisan tersebut dihapus, tapi belum mendapat tanggapan.
Mudah-mudahan anak dalam video hanya grogi dan kepeleset lidah, dan semoga dia tumbuh sehat dan bahagia. Amin.
#Aksan
#Akhsan
#FiksiAksan
#Dyslexia
#Disleksia
#Klarifikasi



Post a Comment